Kebun Teh Kaba Wetan

0 Comments
Kebun Teh Kaba Wetan, Kepahiang - Bengkulu

Udaranya yang sejuk menjadikan Kepahiang adalah tempat yang nyaman untuk disinggahi. Mungkin karna lahan disekitar masih dikelilingi berupa hutan dan perbukitan, atau tidak adanya pabrik penghasil polusi udara, kendaraan pun tidak begitu padat. 

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 sampai dengan tahun 1948, Kepahiang adalah ibukota dari Kabupaten Rejang Lebong yang menjadi ibukota perjuangan, mayoritas penduduknya adalah Suku Rejang atau Hejang. Tahun 1949 pemerintah Rejang Lebong tidak bisa menjalankan roda pemerintahannya di Kepahiang, karena di tahun itu semua fasilitas sarana dan prasarana telah dibumihanguskan saat terjadi aksi Militer Belanda ke II. Di tahun 1956, Curup ditetapkan sebagai ibukota Rejang Lebong dan Kepahiang menjadi ibukota kecamatan. Hingga tanggal 7 Januari 2004, Kepahiang menjadi sebuah kabupaten kembali setelah para tokoh dan segenap masyarakat Kepahiang memperjuangkan kembali Mahkota Kabupaten yang sempat hilang.

Hari pertama di Kepahiang - kamis, 30 Agustus 2018, saya hanya keliling di kawasan alun - alun setelah menikmati mie aceh yang di pinggir jalan itu, yang setelah melakukan perjalanan 3 jam dari bandara Bengkulu yang melewati jalan berliku yang naik dan turun itu. Tidak begitu ramai, pun jarang orang yang berkunjung di tempat ini. Ditengah alun - alun ini ada kolam berbentuk lingkaran yang cukup besar, disekelilingnya ada semacam bangunan - bangunan yang bisa digunakan untuk istirahat. Designnya hampir mirip seperti istana raja di Spanyol. Disebelah luar alun - alun terdapat banyak pedagang kaki lima yang menyajikan berbagai jenis makanan, dari buah - buahan, makanan berat, makanan ringan dari yang pedas sampai yang manis ada semua disitu.

Tidak begitu lama saya observasi pusat kota itu, karena capek dan udah malam saya langsung istirahat.

Esok harinya dihari jum'at yang berkah ini, saya diajak ke Rejang Lebong untuk meninjau proyek sekolah SMK yang sedang dikerjakan. Satu jam untuk menempuh perjalanan kesana menggunakan sepeda motor. Lokasinya tidak jauh dari Curup, ibukota Kabupaten Rejang Lebong yang merupakan kota di daerah pegunungan Bukit Barisan yang dikelilingi Bukit Kaba dan Bukit Daun, yang penduduk aslinya adalah Suku Rejang. Kita berangkat setelah makan siang di warung sate kambing yang berada dipinggir jalan sebelah kanan arah menuju Curup, sementara sedang disiapkan sajian makanannya, saya tinggal menuju Masjid terdekat untuk sholat jum'at. Tidak jauh dari tempat makan itu, hanya sekitar 50 meter, berada disebelah kanan jalan juga arah menuju Curup. 

Hari ketiganya saya explore daerah terdekat sekitar, dengan menggunakan sepeda motor, melihat kebun dan aktifitas masyarakat sekitar. Hari minggunya baru saya diajak berenang dan mengunjungi kebun teh yang tidak jauh dari tempat kami berenang. Kebun tehnya cukup luas, diperbukitan yang tidak terlalu tinggi, udaranya sejuk dan lumayan dingin, walalupun tidak sedingin di daerah pegunungan, pemandangannya cukup memanjakan mata.

Hari seninnya saya meninggalkan Kota Kepahiang yang sejuk ini, saya melanjutkan perjalanan lagi menuju Kota Pagar Alam di Sumatera Selatan, melewati Kabupaten Empat Lawang dan Kabupaten Lahat menggunakan travel yang satu hari hanya 1 - 2 mobil saja yang menuju kesana. Tergantung kepadatan penumpang.

Jam 10 pagi saya menuju terminal tempat saya booking travel semalam. Sesuai jadwal travel, keberangkatan akan dimulai pukul 10 pagi, tapi jam 11 mobil baru datang. Mobil calya, kapasitas 7 penumpang, dikendarai oleh laki - laki paruh baya, rambut yang sudah mulai memutih dan kulit yang mulai keriput. Jalan menuju ke Pagar Alam tidak begitu lebar, hanya cukup untuk dua mobil kendaraan dengan arah yang berlawanan. Jika berpapasan dengan mobil besar, salah satu harus ada yang mengalah untuk memberi jalur. Tidak begitu ramai, hanya 5 - 7 kendaraan per menit. Jalanannya berliku dan naik turun, tapi tidak securam jalur dari bandara Bengkulu ke Kepahiang. Dan itu pun tidak membuat para supir terutama para supir travel dalam mengendarai kendaraannya berhati - hati melewati jalur ini. Mungkin bagi mereka jalur ini sudah seperti sirkuit balapan yang sering dilewati. Rem kendaraan jarang digunakan, kecuali hanya untuk berhenti, pun dalam jalur berkelok yang menurun, itu menjadi trek yang spesial buat mereka menambah kecepatan. Kaki dan tanganya seakan sudah terprogram secara otomatis untuk melalui jalur ini. Kurang lebih 3,5 jam saya berada di mobil Formula 1 type Calya ini, melintasi sirkuit bukit barisan dengan laju kendaraan yang melebihi batas maksimal dari Kementrian Perhubungan.


Tapi mereka telah terlatih dan profesional, dan selalu mengutamakan keselamatan. 100Ribu ongkos yang harus saya keluarkan untuk melintasi sirkuit dari Kepahiang menuju Pagar Alam. Lintas provinsi, 3 Kabupaten 1 Kotamadya.


You may also like

Tidak ada komentar: