Tampilkan postingan dengan label Suku dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suku dan Budaya. Tampilkan semua postingan


Berkumpul bersama anak - anak Desa Adat Beleq

Desa Adat Beleq merupakan suatu desa yang berada di Sembalun. Kaki Gunung Rinjani. Sembalun sendiri adalah desa tertua di Pulau Lombok. Sembalun terdiri dari dua bagian : Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung. Desa Adat Beleq berada di Sembalun Lawang.

Desa Beleq artinya desa besar atau desa induk. Dari sinilah awal mula terbentuknya desa Sembalun yang ada saat ini. 

Sebuah kisah menceritakan bahwa Desa Beleq ini didirikan oleh tujuh pasang suami istri yang kembali setelah berlindung dari letusan Gunung Rinjani yang waktu itu bernama Gunung Samalas. Tujuh pasang suami istri inilah yang sampai sekarang dipercaya sebagai nenek moyang warga Sembalun.

Di Desa Beleq ini hanya terdiri dari tujuh rumah adat. Rumah - rumah inilah yang dulu dijadikan tempat tinggal tujuh pasang suami istri itu. Terdapat juga dua Geleng, yaitu tempat untuk menyimpan harta benda. Dan satu Bale malang, yaitu langgar atau mushola. Tempat beribadah dan bermusyawarah.

Semua bangunannya beratap jerami. Dindingnya anyaman bambu. Dan lantainya terbuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran sapi. Bahan tersebut dicampur dengan air lalu dipadatkan hingga setinggi satu meter. Dibagian tengah teras dibuat tangga untuk memasuki ruangan rumah tersebut.

Denah rumah adat dari suku sasak ini hanya terdiri dari dua bagian : ruang utama dan kamar. Kamar tersebut hanya untuk perempuan. Terutama anak perempuannya. Sebagai wujud perlindungan. 



Semua wisatawan diperkenankan memasuki rumah adat itu. Termasuk saya. Yang memang saat itu semua pengunjung adalah peserta FPN #7 (Festival Petualang Nusantara). Dan ini adalah yang kedua saya mengikuti festival yang memiliki tujuan memajukan pariwisata Indonesia. Sebelumnya festifal ini di Sangiran. Sragen.

Rumah adat yang berada dibawah Bukit Selong ini selalu dirawat. Dengan mengganti bagian - bagian rumah yang telah rapuh atau rusak.

Semua rumah itu tidak dihuni lagi. Sekarang warganya tinggal di luar kawasan yang telah menjadi warisan leluhur itu. Tidak jauh dari situ. Masih satu kawasan. Hanya pondasi batu yang membatasi antar wilayah itu. Tapi mereka tetap merawat dan menjaganya.

Adat - istiat dan kearifan lokalnya adalah warisan budaya yang masih mereka jalankan sampai saat ini.

Saya suka berada disini. Di kaki Gunung Rinjani dan bukit - bukit yang mengelilingi Desa Adat ini. Indah. Sejuk. Dan damai.









Kemeriahan Acara Sekaten Yogyakarta

Namanya Sekaten. Acara tahunan yang selalu diadakan untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW.

Maulud Nabi adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan tahunan ini selalu dilakukan oleh keraton Surakarta dan Yogyakarta. Tapi ini ada di Yogyakarta. Pusat acaranya ada di Masjid Agung. Di kawasan Keraton Yogyakarta.

Acara sekaten pada awalnya adalah suatu upacara yang diadakan tiap tahun oleh raja - raja di tanah Hindu. Berwujud selamatan atau menyajikan semacam sesajen untuk arwah para leluhur.

Sekaten adalah sebuah tradisi yang ada sejak zaman kerajaan Demak di abad - 16. Nama Sekaten diadaptasi dari istilah bahasa Arab. Syahadatain. Artinya Persaksian (Syahadat). Walaupun sebagain kalangan ada yang beranggapan nama tersebut dari dua perangkat pusaka keraton berupa gamelan.

Upacara Sekaten dianggap sebagai perpaduan antara kegiatan dakwah dan seni. Dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga yang mempergunakan kesenian karawitan (gamelan jawa). Karawitan ini menggunakan dua perangkat gamelan. Disela - sela petunjukan itulah Sunan Kalijaga menyiarkan agama Islam dengan dakwah dan pembacaan Ayat - ayat suci Al - Qur'an. Kalimat Syahadat inilah kalimat sakral yang menyatakan taat dan patuh terhadap ajaran agama Islam.

Puncak acara ini disebut Grebek Sekaten. Yaitu prosesi adat sebagai simbol sedekah dari kerajaan Keraton Yogyakarta kepada masyarakat berupa gunungan.

Gunungan adalah simbol kemakmuran. Gunungan ini terdiri dari berbagai macam sayuran dan buahan serta jajanan yang disusun membentuk gunung.

Ada berbagai macam gunungan yang akan dibagikan kepada masyarakat. Yang antara lain : Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), Gapak dan Pawuhan. Gunungan in dibawa oleh beberapa abdi dalem dengan busana baju dan peci yang berwarna merah. Dikawal oleh prajurit Bugis. 


Gajah yang mengawal Gunungan


Ada beberapa gajah dalam pawai Upacara Sekaten ini. Ada lima ekor. Saya tidak tau apa simbol dan makna dari gajah tersebut. Tapi saya melihat kemeriahan didalamnya.

Setelah gunungan diberkahi di Masjid Agung, gunungan akan dibagikan ke masyarakat yang menyaksikan. Orang - orang akan berebut mengambil bagian - bagian dari gunungan tersebut. Mereka percaya bahwa gunungan itu merupakan benda suci. Setipa bagain - bagiannya memiliki kekuatan supranatural.

Prajurit Bugis pengawal Abdi Dalem pembawa Gunungan

Tradisi selalu memiliki arti di setiap budaya. Ada makna yang tersimpan didalamnya. Dan ada pesan juga yang ingin disampaikan melalui prosesi acaranya. 

Rebutan gunungan dalam Grebek Sekaten adalah simbol komunikasi budaya antara kerjaan dan rakyatnya. Sebuah tanda yang memberi sebuah pesan untuk para penguasa. Rakyat adalah bagian dari kerajaan. Yang pada hakikatnya rakyatlah penguasa tertinggi dalam suatu bangsa. Yang diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Untuk kepentingan rakyatnya.

Semoga setiap tradisi selalu memberikan arti. Untuk kita. Untuk semua. Untuk kesejahteraan bersama.

Deretan Rumah di Kampung Naga

Letaknya di Desa Neglasari. Tasikmalaya. Perbatasan antara Tasikmalaya dan Garut. Jawa Barat.

Kampung Naga merupakan kampung adat yang masih memegang prinsip - prinsip yang diwariskan leluhurnya. Budayanya, adat istiadatnya dan kearifan lokalnya.

Agama yang dianutnya Muslim. Bahasanya Sunda. Mata pencahariannya adalah petani. Banyak sawah di sekitar Kampung Naga ini. Tanamannya organik. Pupuknya memanfaatkan kotoran hewan ternaknya. Ayam dan kambing - kambingnya. Ada juga beberapa kolam ikan. Semua masih tergantung alam.

Kampung Naga ini berada di lereng bukit. Itulah kenapa kampung ini disebut Naga. Yang berarti Lereng. Berasal dari kata "Nagawir". Dikelilingi sungai Ciwulan yang alirannya dari Gunung Cikuray di Garut.

Penduduk Kampung Naga selalu menjaga kelestaian alamnya. Hal ini terlihat dari beberapa daerah yang dikeramatkan sebagai wujud hubungan yang baik dengan alam. Misalnya : Leuweng (hutan) Keramat. Leuweng (hutan) Larangan dan Bumi Ageung.

Kawasan tersebut sangat disakralkan oleh penduduk Kampung Naga ini. Mereka menyebutnya pamali (tabu). Siapapun tidak boleh memasuki. Baik warga lokal mapupun pendatang. Keculi pemangku adat : Kuncen, Punduh adat, lebe dan Patunggon Bumi Ageung. 

Bangungan rumah yang berdiri di Kampung Naga ini berjumlah 113. Empat diantaranya adalah bangunan khusus : Masjid, Bumi Ageung (Rumah untuk menyimpan pusaka dan rumah yang dikeramatkan), Bumi Patemon (Balai pertemuan) dan Leuit (Lumbung padi bersama).

Bentuk rumahnya harus panggung. Bahan dari bambu atau kayu dengan atap menggunakan daun nipah, ijuk atau alang - alang. Lantai rumah ini pun harus dengan bambu atau kayu. Dengan dinding dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Tidak ada cat dalam rumah ini, kecuali kapur atau meni untuk melapisi bahan bangunan ini.

Rumahnya harus menghadap ke utara atau selatan. Dengan memanjang ke arah timur dan barat. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan dengan anggapan rizki yang masuk melalui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang yang sejajar.

Walaupun keturunan penduduk ini bertambah, di kampung ini tidak ada lagi tambahan bangunan atau rumah baru untuk tempat tinggal. Beberapa penduduknya akan tinggal di luar Kampung Naga ini. Untuk warga yang menikah dengan warga di luar kampung ini, mereka harus tinggal di luar Kampung Naga. Mengikuti suami atau istrinya.

Listrik tidak ada disini. Menurut mereka hanya akan merusak hubungan dengan alam yang telah terjalin baik selama ini. Semua peralatan disini tradisional. Dan di dalam rumah ini tidak ada perabotan (kursi, meja dan tempat tidur). 

Kampung yang sangat menjaga adat istiadat peninggalan leluhurnya. Menolak segala bentuk intervensi dari pihak luar. 

Kampung yang tidak ada kejelasan sejarah secara pasti. Kapan dan siapa pendiri serta latar belakang terbentuknya sebuah kampung ini. Tapi mampu bangkit dari kehancuran yang pernah dialaminya. Sebuah kampung yang pernah dibumihanguskan oleh organisasi DI/TII yang menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. 

Kampung adat ini menyebut sejarahnya dengan istilah "Pareum Obor". Artinya matinya penerangan. Tapi itu hanya sebuah istilah. Tidak dengan adat dan budayanya. Mereka akan tetap selalu terang dan menjaganya. Hidup berdampingan dengan alam. Alam yang selalu memberi kehidupan dengan cahayanya yang terang.


Kegiatan penduduk Kampung Naga menumbuk padi

Alam yang selalu memberi apa yang kita butuhkan. Dengan selalu menjaga dan merawatnya. Hidup harmonis antar warga antar manusia. Indah....

Kerajinan tangan dari Kampung Naga