Salah satu gunung berapi yang paling aktif di Indonesia, sebuah gunung dengan ketinggian 2.913 Mdpl yang terletak di Jawa Tengah dan menjadi salah satu gunung favorit untuk di jelajahi oleh pendaki. Yah, Gunung Merapi. Gunung api yang paling aktif di Indonesia ini menjadi tujuan favorit para pendaki lokal maupun dari luar negeri. Karena itulah sayapun juga ingin menjadi salah satu pendaki dari luar negeri lokal yang ingin mencapai puncak gunung merapi ini...😊

Tepat pukul 13:30, semua perlengkapan pendakian dalam ceriel dengan kapasitas 70+5 sudah terpacking dengan rapi, setelah melakukan perijinan untuk pendakian 2 hari 1 malam di base camp Barameru. Base Camp Baremeru merupakan satu - satunya pos pendakian yang menjadi pintu masuk resmi dan perijinan untuk melakukan pendakian di Gunung Merapi yang berada di Selo, Boyolali.

Dengan cuaca gerimis mengundang dan berkabut, sekitar pukul 14.00 wib (nunggu hujan reda) saya memulai perjalanan ini sendiri (Soalnya emang berangkatnya sendiri). Diawal - awal perjalanan pendakian, saya hanya berjalan seorang diri dijalanan beraspal berwarna hitam pekat yang masih basah(kena air hujan) sampai New Selo. Tapi setelah berjalan beberapa menit, ternyata banyak para pendaki yang pdkt sama saya πŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„(kebanyakan cewek #Tapi sama cowoknyaπŸ˜•. Itu bukan tanpa sebab, mungkin karna kasian sama saya yang celingukan sendiri kaya orang ilang..πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Diawal pendakian setelah melewati New Selo (New Selo merupakan pos pengamatan Gunung Merapi yang juga dijadikan tempat untuk menikmati keindahan Gunung Merbabu) jalur yang saya lewati berubah menjadi jalan tanah setapak yang licin, sebuah jalan yang juga digunakan oleh para petani untuk menuju ladang mereka yang berada di kaki gunung merapi ini. Sepanjang jalan yang saya lewati ini sangat licin setelah diguyur hujan yang sangat deras sebelum saya berangkat. Dan karna jalan yang licin inilah yang menjadi salah satu basa basi untuk saling mengenal pendaki satu sama lain. Termasuk mereka kepada saya......😜😜😜

Sepanjang jalur, jalanan yang saya lewati becek dan tergenang air, terkadang juga harus memanjat untuk melewati jalur yang terjal dengan hanya pegangan akar atau rerumputan disekitar. Setelah kira - kira satu jam melewati jalan licin dan mananjak sampailah saya di Gerbang TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi) yeyyyyy πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ..... Di gerbang TNGM ini terdapat saung yang bisa kita gunakan untuk berteduh dari terik matahari dan hujan, tempatnya teduh karna disekitarnya terdapat pohon - pohon yang menjulang tinggi ke atas awan. Tempatnya nyaman untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya.

Gerbang TNGM

Pos berikutnya adalah Pos 1 Watu Belah yang berjarak 500 m dari gerbang TNGM. Jalur untuk menuju pos ini mulai menanjak dan lebih licin dari jalur sebelumnya ya sobbb, pada jalur ini kawasan disekitar berupa hutan dengan berbagai macam pohon dan tumbuhan liar. Saya melewati jalur dengan trek yang curam ini seorang diri gaesssπŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“ karena beberapa rombongan yang sempat saya kenal tertinggal cukup jauh dibelakang dan didepan, tapi terkadang gak sendiri juga ko', beberapa kali sempat melewati beberapa rombongan lain yang tidak saya kenal. Kendati kami belum saling kenal, tapi kami tetap melakukan tegur sapa bahkan menyempatkan bercerita sejenak lama (lumayan sambil istirahat).


Satu jam saya melewati jalur ini untuk menuju pos 1 dari gerbang TNGM, pos disini cukup ramai lancar dengan pendaki yang sedang melepaskan lelah. Berhubung tenaga dan cuaca masih memungkinkan untuk dilanjutkan ke pos berikutnya, jadi saya hanya numpang lewat di pos 1 ini .

Pos berikutnya adalah pos 2, pos yang menjadi tujuan saya untuk mendirikan tenda sebelum menuju ke puncak tertinggi gunung merapi. Ada 2 pilihan jalur untuk menuju Pos 2 ini, persimpangan 2 jalur ini berada beberapa meter dari pos 1. Dan setelah berpikir sejenak sambil istirahat, saya memilih jalur kiri untuk menuju pos 2. Dan ternyata jalur yang saya pilih ini cukup terjal dengan trek berbatu, bebatuan yang cukup besar lagi.. ditambah plus pemandangan jurang yang sangat amat curam disebelah kanannya...πŸ™‰πŸ™‰ Wowwwww banget kan.

Dan untuk melewati jalur bebatuan ini harus sangat hati - hati, selain licin dan banyak celah antar bebatuan, terkadang batu yang akan menjadi pijakan bisa bergeser atau terjatuh. Sekitar satu jam waktu yang kita butuhkan untuk melewati jalur bebatuan yang lumayan extrim itu. Tepat matahari terbenam sampailah aku di Pos II (tepatnya pertigaan pertemuan 2 jalur dari setelah Batu Belah), saya puaskan istirahat disini sambil menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya. Walaupun sedikit berkabut, tapi nampak gagah berdiri Gunung Merbabu. Nampak dari kejauhan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang diselimuti awan. Udara semakin dingin karena angin berhembus semakin kencang, saya masih menghilangkan lelah bersandar di ceriel memandang keindahan alam dari gunung merapi dengan diiringi tenggelamnya matahari yang ditutupi oleh kabut πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„

View Gunung Merbabu dari Pos II tempat Camp

Sesuai dengan rencana yang telah saya sepakati dengan diri saya sendiri , dan dikuatkan dengan beberapa pertimbangan dari berbagai sumber dilapangan saya pastikan akan mendirikan tenda pos 2 sebelum pasar bubrah dengan pertimbangan keamanan dari badai yang sewaktu - waktu bisa datang. Sebelum mendirikan tenda, saya sempat bertanya tentang keadaan disekitar area camp, terutama tentang keamanan dan kenyamanan. Terlihat beberapa pendaki yang sedang sibuk mempersiapkan tendanya di area camp pos 2 ini, beberapa pendaki juga ada yang melanjutkan untuk menuju ke pasar bubrah untuk mendirikan tenda disana. Setelah cukup itirahat sambil menikmati senja, saya mempersiapkan tenda yang akan menjadi private area saya. 

Disaat saya sedang membuka perlengkapan tenda, tiba - tiba ada salah seorang yang menegur saya sambil memperkenalkan temannya. Saya tidak begitu asing dengan orang yang menegur ini, karna sepanjang perjalanan saya dan rombongan dia sering bertemu dan bahkan terkadang satu perjalanan walaupun sering terpisah lagi. Setelah saling sapa dia memperkenalkan saya kepada seorang laki - laki seusia saya yang ternyata sedang hiking seorang diri seperti saya. Tak lama kita berbincang karna hari semakin gelap, diujung perbincangan saya menawarkan untuk gabung dengan tenda saya. Kebetulan dia juga tidak membawa perlengkapan tenda untuk camping, karna rencana dia memang untuk naik dan turun dihari yang sama. Dan akhirnya kita bekerja sama mendirikan tenda untuk istirahat dan bermalam di pos 2 ini. Di pos 2 ini area campnya tidak begitu luas dan hanya bisa menampung sekitar 5 tenda saja di tanah yang rata. Tapi terkadang tak sedikit juga beberapa pendaki yang memaksakan mendirikan tenda di tanah yang miring di pos 2 ini.


Kami hangatkan suasana dengan perbincangan tentang motivasi kita dalam Solo Mounteneering, pengalaman - pengalaman kita dalam melakukan pendakian. Ternyata sudah cukup banyak gunung di Indonesia yang telah dia jelajahi, termasuk Gunung Impianku, Gunung Leuser. Kami habiskan malam dengan bincangan hangat sambil menikmati secangkir kopi panas dan beberapa sisa cemilan yang kami bawa. Kami putuskan akan Summit setelah Sholat Shubuh.

Menjelang pagi ternyata cuaca tidak bersahabat, hujan turun yang terkadang disertai badai. Kami pun dengan sabar menunggu sampai hujan reda dan cuaca mendukung untuk Summit. Pagi pun menjelang dan cuaca semakin tidak bersahabat, kabut semakin tebal dan angin pun semakin kencang. 

Tidak terasa hari semakin siang, waktu sudah menunjukan pukul jam 12:00. Cuaca belum juga menunjukan ada tanda - tanda akan membaik, matahari seakan tak mampu untuk menembus kabut yang cukup tebal. Banyak sebagian pendaki yang mulai meninggalkan tempat camping mereka, satu persatu mulai beranjak turun menuju base camp Barameru. Tapi kami berdua tetap bersabar menanti cuaca bersahabat untuk melakukan Summit, kami beruda akan tetap menunggu sampai cuaca benar - benar tenang. Kami habiskan waktu penantian yang panjang itu dengan obrola santai dan penuh makna, saling berbagi pengalaman dalam berpetualang. Terutama aku, aku cukup antusias mendengarkan teman yang aku temukan semalam ini ketika ia bercerita tentang petulanganya tentang gunung - gunung yang belum pernah aku kunjungi dan menjadi gunung impianku untuk aku daki.

Ditengah obroan ringan itu tiba - tiba tak terasa badan kami mulai terasa panas, kami pun beranjak keluar untuk melihat keadaan cuaca. Dan ternyata sinar matahari perlahan mulai menembus kabut yang mulai menipis, mungkin cahaya ini yang membuat keadaan didalam tenda menjadi hangat. "Harapan itu ada, Merapi tak pernah ingkar janji..." ungkap kami berdua...

View Pasar Bubrah

Kami memang bertekad pendakian ini harus sampai puncak, kami yakin Merapi akan menunjukan puncaknya dan mengusir kabut dan badai. Merapi tidak akan pernah ingkar janji untuk menunjukan keindahanya pada setiap pendaki yang mengunjunginya. 


View Gunung Merbabu - Gunung Sindoro - Gunung Sumbing - Gunung Andong

Pukul 13:00 kami mulai Summit. Udara cukup cerah walaupun terkadang masih kami rasakan rintik hujan. Tampak jelas nan jauh disana berdiri dengan kokoh Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang diselimuti awan jingga, nampak juga disebelah kami sabana yang hijau menyelimuti Gunung Merbabu. Indah sekali pemandangan saat itu. Sepanjang trek menuju Puncak Merapi didominasi oleh bebatuan, dari yang besar sampai yang kecil - kecil atau kerikil. Setelah melewati Pasar Bubrah, trek mulai menanjak cukup terjal dengan jalanan berpasir. Cukup susah memang untuk melewati jalanan berpasir ini, tapi kami semangat karena puncak telah menampakan ketinggianya. 

Jalur Menuju Puncak Barameru

Satu setengah jam kami harus melewati jalanan berbatu dan berpasir untuk menuju puncak Barameru. Begitu indah pemandangan alam terlihat dari puncak Merapi, nampak sebuah kawah yang masih aktif mengeluarkan asap di bawah sana. Sebuah kawah yang pernah menyemburkan awan panas ratusan meter disaat meletus, kawah yang dikelilingi tebing berbatu. Aku sempat merinding dan bergemetar melihat begitu dalamnya kawah dari puncak ini, tidak ada pengaman atapun penghalang yang membatasi tebing ini. 


Puncak Barameru

Hanya kehati - hatian dan kewaspadaan kita yang harus kita jaga selama dalam menikmati puncak Barameru ini. Aku cukup puas bisa menapakan kaki dipuncak Merapi ini, tapi tidak dengan Vityan. Berdiri di Puncak Tusuk Gigi adalah tujuanya. Puncak berbatu yang menjulang tinggi, dengan kawah disekelilingnya. Aku semakin gemetar melihat puncak yang menjadi tujuan Vityan, puncak yang harus dilalui dengan merayap di tebing. Karena melihat aku gemetar dan anginpun masih cukup kencang, akhirnya Vityanpun mengurungkan niatnya untuk mencapi puncak Tusuk Gigi itu. Aku bersyukur sekali karena aku tidak jadi mengambil gambar dia ketika dia diatas puncak itu dari tempat yang sangat aku takuti.

Menikmati udara di Puncak Merapi

Karena waktu yang semakin sore, kamipun beranjak turun ketempat camp. Sesampianya ditempat camp kami sesegera mungkin merapikan perlengkapan camping kami. Kami tidak ingin kemalaman sampai di base camp barameru nanti. Setelah semuanya terpacking di ceriel kami masing masing, kami segera meninggalkan tempat camp kami. Target kami 2 jam harus sampai pos base camp Barameru. Dengan cepat kami menelusiri jalan berbatu yang curam sebelum pos Batu Belah, satu persatu kami lalui beberpa rombongan pendaki yang sedang turun. Sesekali kami pun terkadang berpapasan dengan pendaki yang akan menuju puncak Merapi. Kami percepat langkah kami setelah melewati Pos Batu Belah, karena jalur ini sudah mulai trek tanah walalupun licin tapi jalur ini masih bisa dilalui dengan agak sedikit berlari.


Puncak Barameru

Hanya satu jam waktu yang kami butuhkan untuk menuju base camp Barameru, terlalu cepat memang. Kami pun tidak percaya secepat itu kami bisa melawati jalanan licin dan berbatu dari pos II menuju base camp Barameru. Kami memang mengejar waktu, selain untuk seseorang yang menghawatirkanku, ada tujuan lain lagi yang harus aku jelajahi setelah ini. Pantai - pantai di Jogja. Ya, aku akan menjelajahi pantai setelah dari sini. Solo Traveling. Sebuah petulangan yang aku persembahkan untuk kamu, kamu yang menjadi semangatku, kamu yang selalu menghadirkan impian - impian baru untuk kita. Untuk Aku dan Kamu.

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS

Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR.

Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata
Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan
Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit
Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam.., maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI.

Tetap semangat...Tetap sabar....Tetap tersenyum...! Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN.

TUHAN menaruhmu di "tempatmu" yang sekarang, bukan karena "KEBETULAN".
Orang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
MEREKA dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.


By Dahlan Iskan


Ibu Ainun Habibie, pendamping setia mantan Presiden ke 3 BJ. Habibie, telah berpulang untuk selamanya menghadap sang Pencipta. Almarhumah meninggal  di Jerman.karena mengidap penyakit kanker usus. Berbagai upaya medis telah dilakukan selama ini melalui operasi canggih. Semuanya tak mampu menghentikan kanker ganas yang diidapnya. Jenazah dibawa pulang ke Tanah Air dan karena jasa-jasanya beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata kemarin, Selasa, 25 Mei 2010. Hampir semua media nasional, cetak dan elektronik, meliput peristiwa kepergian perempuan dokter itu untuk selamanya. Atas nama pemerintah dan masyarakat Indonesia, Presiden SBY menyampaikan duka cita yang mendalam dan bertindak selaku Inspektur Upacara pemakaman almarhumah.

Nama Ainun Habibie, begitu panggilan akrabnya, tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Sebab, beliau pernah menjadi ibu negara mendampingi Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie sebagai presiden RI ke 3 menggantikan Pak Harto setelah  32 tahun berkuasa yang berakhir pada 21 Mei 1998. Status sebagai ibu negara memang tidak lama, karena pemerintahan BJ. Habibie memang  berlangsung pendek. Sejarah mencatatanya sebagai era transisi, dari pemerintahan otoriter ke Orde Baru ke era demokratis. Namun demikian, walau tidak lama, banyak peran --- terutama sosial dan kemanusiaan yang telah dilakukan oleh mantan ibu negara itu, seperti menjadi Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI), Wakil Ketua Dewan Pendiri Yayasan SDM IPTEK,  Pendiri Yayasan Orbit  yang punya cabang di seluruh Indonesia. Semasa gejolak di Aceh antara GAM dan pemerintah Indonesia, Ibu Ainun Habibie juga terlibat kegiatan sosial dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak Aceh. Semua merupakan bukti walau tidak lagi menjadi istri pejabat negara, almarhumah tetap menjalankan tugas-tugas kemasyarakatan dan kemanusiaan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Ibu Ainun Habibie telah menjadi pendamping setia BJ. Habibie di masa enak dan sulit. Publik mengetahui BJ. Habibie menjadi presiden menggantikan Pak Harto dalam masa yang amat sangat sulit. Dianggap sebagai kepanjangan tangan rejim Soeharto, Presiden BJ. Habibie menghadapi tantangan yang sungguh luar biasa sulitnya. Legitimasi politiknya dianggap cacat. Karena itu, apapun yang dilakukan BJ. Habibie selalu memperoleh tanggapan negatif dari lawan-lawan politiknya. Puncaknya, pidato pertanggungjawaban BJ. Habibie ditolak MPR, sehingga BJ. Habibie tidak mengajukan pencalonan sebagai presiden. Saat itu caci maki dan hujatan bertubi-tubi ke BJ. Habibie ditanggapinya dengan tenang seolah tidak apa-apa. Ibu Ainun Habibie meghadapinya dengan tegar dan tetap mendampingi BJ. Habibie seperti biasa.

Ibu Ainun adalah sosok berkarakter. Menurut pengakukan anak-anaknya, almarhumah adalah ibu yang penyabar, tidak pernah bicara keras dan kasar, tetapi punya prisip. Prinsip kejujuran dan pola hidup sederhana merupakan dua kata kunci yang selalu ditanamkan kepada anak-anak dan keluarganya. Almarhumah adalah sosok yang tidak suka menonjolkan diri, walau sebenarnya ruang untuk itu tersedia dan tak terbatas. Sebagai seorang dokter, beliau sangat disiplin membagi waktu dan mengonsumsi makanan, termasuk untuk suaminya, BJ. Habibie.
Dr. Hasri Ainun Basari Habibie telah berpulang meninggalkan kenangan bagi masyarakat luas. Kita ikhlaskan kepergiannya menemui sang khaliq yang telah  menantinya dengan bekal amal sholeh yang telah diperbuat selama hidupnya. Namun kita  juga merasa kehilangan atas kepergian itu. Sebab, tidak banyak tokoh sekaliber beliau di negeri ini yang konsisten menjalankan peran-peran sosial kemasyarakatan tatkala tugas resmi sang suami telah berakhir. Banyak istri pejabat tinggi negara aktif melakukan tugas-tugas sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan dengan mendirikan lembaga-lembaga sosial. Tetapi ketika sang suami berakhir jabatannya berakhir pula peran-peran yang dilakukan sang istri. Almarhumah Ainun Habibie bukan sosok seperti kebanyakan istri pejabat.

Apa yang telah dilakukan almarhumah Ibu Ainun Habibie bisa menjadi sebuah teladan yang patut kita tiru. Masih jutaan warga negeri ini yang hidup dalam kesulitan. Mereka memerlukan bantuan tidak saja dari pemerintah, tetapi juga pribadi atau tokoh masyarakat sebagaimana telah dilakukan oleh Ibu Ainun Habibie. Tetapi kita akui bahwa kita sering memberikan apresiasi karya orang tatkala orang itu telah tiada. Sebagaimana yang kita lakukan terhadap almarhumah Ibu Ainun Habibie. Kita sadar bahwa almarhumah telah begitu banyak melakukan peran sosial kemasyarakatan tatkala beliu tiada. Selama ini publik mengetahui almarhumah hanya sebagai pendamping mantan orang nomor satu di negeri ini.

Kisah Sukses Habibie bersama Ibu Ainun, Kisah yang Inspiratif

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap. Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995.

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung. Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250. N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan.

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:
“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang. Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat, Ia tahu persis sebagai Insinyur Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT. PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri. N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin. Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu. Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu. Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’
Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.
Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina dan Indonesia.

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Brazil, Canada, Amerika dan Eropa.
Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dan lain - lain dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka”
Pak Habibie menghela nafas…………………..
Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;
Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.
Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.
N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu bahkan hingga kini.
Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.
Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya.

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD, Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten, C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja.”
Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:
“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik, organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”
Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam, seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………
“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.
Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.
Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa. 

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus.
3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”
Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata.
Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing). Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.
Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain. Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”
(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Ketika bumi semakin tua. Ketika kesetiaan cinta sejati mulai diragukan orang, ketika kemurnian cinta seringkali dipermainkan orang, ternyata masih ada juga pasangan suami-istri yang telah dengan sungguh-sungguh memelihara kemurnian cintanya. Maut pun seolah tak dapat menghentikan kenangan cinta abadi yang telah tergores indah di hati. Walaupun raga telah tepisahkan oleh kematian, namun cinta sejati tetap tersimpan abadi di relung hati. Kisah cinta almarhumah Hasri Ainun Habibie dan mantan Presiden Republik Indonesia B J Habibie memberikan pelajaran serta inspirasi bagi semua pasangan suami-istri di penjuru tanah air, betapa indahnya memelihara kesetiaan cinta sampai akhir hayat. Bila mengenang almarhumah Hasri Ainun Habibie, BJ Habibie tak kuasa menahan kesedihannya. Bola mata Habibie yang biasanya selalu berbinar-binar bila sedang berbicara tentang teknologi dan pandangan politiknya saat itu berubah redup hingga tetes air mata membasahi pipi.  Siapa pun yang melihatnya ikut hanyut dalam duka. 

Siapa pun tak menyangka, seorang pria yang biasanya selalu tegar dan ceria itu ternyata menyimpan sisi romantisme yang patut menjadi teladan. Sungguh sempurna pribadi BJ Habibie, beliau memiliki otak yang cerdas cemerlang, karier dan kedudukan yang terhormat dalam masyarakat, dan beliau ternyata juga memiliki cinta sejati untuk sang istri. Betapa bahagia dan bangganya almarhumah Hasri Ainun Habibie memiliki suami yang mencintai almarhumah sampai di keabadian. Tentu banyak wanita yang ingin nasibnya seberuntung almarhumah Hasri Ainun Habibie, menjadi wanita utama di hati suaminya. Sesuatu yang sulit didapatkan pada jaman ini. Selamat jalan Bunda, terimakasih atas perhatian Bunda pada semua orang yang memerlukan bantuanmu. Hingga akhir hayat, Ibunda Ainun Habibie telah mencurahkan perhatiannya untuk mengurus dua lembaga sosial; pertama adalah Yayasan Orbit yang memberikan beasiswa dari SD sampai S1 dan kedua, perhimpunan bank mata.

Ini adalah bukti cinta Ibunda Ainun Habibie pada masyarakat Indonesia. Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Sabtu 22 Mei 2010 setelah menjalani operasi kanker rahim di salah satu rumah sakit besar di Munich, Jerman. Almarhumah Ainun dimakamkam di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada hari Selasa 25 Mei 2010. Pada masa hidupnya ia pernah menerima penghargaan bintang jasa Republik Indonesia kelas 2 Bintang Mahaputra Adi Pradana. Hasri Ainun Habibie dilahirkan di kota Semarang, 11 Agustus 1937. Putri keempat dari delapan bersaudara keluarga H Mohammad Besari ini dikenal ramah kepada siapa pun. Ainun dan Habibie menikah pada tanggal 12 Mei 1962. Kedua pasangan yang saling mencintai ini  berbulan madu di beberapa tempat, yaitu: Kaliurang-Yogyakarta, kemudian ke Bali, dan diakhiri di Ujung Pandang yang merupakan kampung halaman Habibie. Setelah menikah, Ainun harus ikut Habibie yang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Jerman. Kehidupan awal di sana dilalui dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan karena pendapatan beasiswa Habibie yang teramat kecil. Namun walaupun keadaan yang serba pas-pasan, Ainun tak pernah mengeluh. Dengan sabar dan penuh cinta kasih, Ainun tetap setia mendampingi Habibie. Dalam suka dan duka. Agar dapat menghemat, Ibu Ainun pun sempat menjahit sendiri pakaian bayi untuk buah hati yang sedang dikandungnya. Dari pernikahan ini, pasangan sejati tersebut memiliki dua orang putra yang masing-masing bernama llham Akbar dan Thareq Kemal serta enam orang cucu.



Sumber : Dari berbagai sumber