Kerbau Bukit Merese

0 Comments

 



Namanya Merese, dari kata merisik yang berarti gundul. Dikatakan gundul karena memang bukit ini hanya rerumputan tanpa adanya satupun pohon yang berdiri dibukit ini.

Inilah bukit merese yang tempatnya ada diatas pantai, yang disekililingnya ada pantai pasir putih. Bukit ini seperti savana, dengan rumputnya yang hijau disaat musim hujan, dan akan berubah coklat disaat musim kemarau.

Bukit merese terletak di jalan Kuta Lombok, Pujut, Lombok Tengah, NTB. Dikawasan Ekonomi Khusus, Mandalika. Yang dekat sirkuit Internasional Pertamina Mandalika itu, tempat balapan MotoGP.

Akses menuju bukit ini mudah, untuk kendaraan roda dua ataupun empat jalannya sudah seperti sirkuit yang ada disebelah bukit ini. Pun untuk mencapai puncak bukit ini juga tidak begitu sulit, karena tidak begitu tinggi juga. Dari anak kecil, sampai kakek nenek bisa dengan mudah untuk menuju disekitaran bukit ini.

Pemandangan dari atas bukit ini terlihat sangat bagus, dari hamparan pantai pasir putih dipantai Aan, rerumputan savana yang hijau, gradasi warna laut yang hijau kebiruan dan bebatuan hitam seperti karang di sela - sela perbukitan ini.

Tapi bukan semua keindahan itu yang membawa saya untuk berkunjung ke tempat yang menjadi salah satu spot terbaik untuk menikmati sunrise dan sunset ini. Bukan juga karena sirkuitnya yang telah dikenal oleh belahan dunia karena ajang MotoGpnya waktu itu.



Saya lebih tertarik dengan kawanan kerbau yang tubuhnya penuh lumpur ini. Inilah yang menjadi tujuan saya mengunjungi bukit merese ini. Kerbaunya. Ada juga sapinya. Tapi lebih dominan kerbau. Saya suka keduanya. Kerbaunya dan sapinya. Lebih tertariknya keduanya ada di padang savana yang hijau disaat musim hujan ini.

Sore yang menuju senja, sekawanan kerbau dan sapi berjalan beriringan dibukit ini. Sesekali mereka berhenti untuk menyantap rerumputan, saya hampiri, dan saya ajak foto bersama. Lihatlah satu  kerbau itu, berpose seakan tau kalau sedang diajak selfie. 

Mereka tidak takut terhadap pengunjung disitu, mengabaikan, seolah kami adalah bagian darinya yang sedang menikmati rerumputan ini. 

Kawanan kerbau dan sapi ini akan kembali ke kandang yang berada dibawah bukit ini. Seakan tau, waktu untuk kembali kerumah. Tanpa digiring, perlahan mereka berjalan menuju tempat istirahatnya. 

Mungkin senja memiliki bahasa tersendiri yang disampaikan untuk kerbau dan sapi ini. Yang menggiring sekawanan tubuh besar yang dipenuhi lumpur ini, untuk kembali. Waktunya istirahat.


Senja dibukit ini memang indah, udaranya sejuk. Menenangkan siapapun yang menikmatinya, pun para sekawanan binatang herbivora ini. Ketenangan yang mengajak kita untuk pulang, untuk istirahat, untuk bermunajat kepada sang Pencipta. 





You may also like

Tidak ada komentar: